Banyak Hoax, Unilever Malas Ngiklan di Facebook dan Google

Di Kutip Oleh : PUBinfo Redaksi 13 Feb 2018, 13:28:14 WIB | dibaca : 68 pembacaTeknologi

Banyak Hoax, Unilever Malas Ngiklan di Facebook dan Google

Foto: GettyImages

Jakarta - Unilever mengancam bakal menarik semua iklan yang dipasangnya di Facebook, YouTube dan platform sejenis lainnya, jika mereka tidak bisa meminimalkan konten negatif dan hoax.

Ancaman ini bisa berdampak serius. Seperti diketahui, Unilever adalah salah satu pengiklan besar secara global.

Chief Marketing Officer Unilever Keith Weed, menggambarkan media sosial saat ini sebagai lingkungan online beracun yang menjadi tempat propaganda, ujaran kebencian dan konten mengganggu lainnya bersarang di sana.

"Berita palsu, rasisme, seksisme, teroris menyebar kebencian, konten beracun yang menyasar anak-anak. Industri media digital harus mendengarkan dan melakukan tindakan terkait hal ini," sebutnya seperti dikutip dari Los Angeles Times, Selasa (13/2/2018).

Wajar jika Unilever tak main-main membelanjakan anggaran iklannya di berbagai media. Tahun lalu, Unilever menghabiskan hampir USD 9,5 miliar (sekitar USD 129 triliun) untuk kampanye marketing sejumlah brand di bawah naungannya, antara lain Lipton, Dove, Axe dan Ben & Jerry. Seperempat dari budget tersebut, atau USD 2,4 miliar (sekitar Rp 32,7 triliun) dibelanjakan untuk kepentingan iklan digital.

Weed menyebutkan, perusahaannya berjanji akan menggenjot lebih banyak konten yang "bertanggung jawab", termasuk iklan yang mengatasi stereotype gender.

Itu sebabnya, mereka hanya akan bermitra dengan platform digital yang peduli akan hal ini, serta menggunakan standar industri untuk metrik iklan dan meningkatkan pengalaman iklan konsumen.

Sejauh ini dikatakan Weed, pihaknya berdiskusi dengan Facebook, Google, Twitter, Amazon dan Snapchat mengenai hal tersebut. Menurutnya, berdasarkan suara konsumen dalam beberapa bulan terakhir, orang semakin prihatin dengan dampak digital terhadap kesejahteraan, demokrasi dan pada kebenaran itu sendiri.

"Ini bukan sesuatu yang bisa disingkirkan atau diabaikan. Konsumen juga menuntut sebuah platform bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat," sebutnya.

Facebook dan Google Mendominasi

Sudah bukan rahasia lagi, Facebook dan Google mendominasi iklan online. Belakangan, mereka semakin mendapat tekanan dari para pembuat kebijakan, akademisi dan ktirikus industri agar lebih serius menangani kesalahan informasi beredar di platform mereka.

Meski demikian, keduanya tetap merajai pangsa pasar ini. Di Amerika Serikat (AS) saja, berdasarkan laporan terbaru EMarketer, Facebook dan Google memakan hampur dua pertiga pasar iklan digital AS. Google diperkirakan punya porsi 42% sementara Facebook di angka 23%.

Menanggapi Unilever, Facebook berjanji akan berupaya sekuat tenaga agar platformnya minimal dari konten negatif.

"Kami sangat mendukung komitmen Unilever dan kami selalu bekerjasama dengan mereka," kata Facebook.

 

Sumber : detik.com

View all comments

Write a comment

(Input Kode Di Samping Dengan Benar)