Sejarah Panjang Piala AFF

Di Kutip Oleh : PUBinfo Redaksi 08 Nov 2018, 13:06:32 WIB | dibaca : 34 pembacaOlahraga

Sejarah Panjang Piala AFF

Kurniawan Dwi Yulianto yang pernah bermain di Piala AFF akan menjadi salah satu staf pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. (AFP PHOTO/Pornchai KITTIWONGSAKUL)

Jakarta - Piala AFF akan memasuki edisi ke-12 pada gelaran di 2018. Turnamen ini sudah meninggalkan jejak panjang dalam sejarah persepakbolaan di Asia Tenggara.

Ajang Asean Football Federation Championship (AFF) Championship merupakan sebuah kompetisi sepakbola internasional dua tahunan yang diperebutkan oleh tim nasional se-Asia Tenggara.

Dalam edisi perdana, turnamen dua tahunan ini bernama Piala Tiger lantaran disponsori oleh bir Tiger. Kerja sama berakhir pada Piala Tiger 2004 dan kejuaraan lebih dikenal dengan nama Piala AFF. Dari 11 edisi yang telah berlangsung, Thailand jadi tim paling sukses dengan catatan lima gelar juara.

Thailand sukses meraih kampiun di Piala AFF pada 1996, 2000, 2002, 2014, dan 2016. Sementara Singapura menyusul pada posisi kedua dengan raihan empat kali juara pada (1998, 2004, 2007, 2012). Malaysia (2010) dan Vietnam (2008) juga sempat merasakan gelar juara. Timnas Indonesia bisa dibilang jadi tim paling sial lantaran lima kali masuk final ( 2000, 2002, 2004, 2010 dan 2016) namun semuanya berujung jadi runner up.

Sedikit pelipur lara bagi Timnas Indonesia adalah keberhasilan bomber-bomber "Merah-Putih memenangkan perburuan gelar pencetak gol terbanyak pada era 2000-an. Gendut Doni (2000), Bambang Pamungkas (2002), Ilham Jaya Kesuma (2004), dan Budi Sudarsono (2008) adalah bomber-bomber Indonesia yang pernah menjadi pemuncak daftar topskor.

Dalam jangka panjang gelaran turnamen ini, Piala AFF sudah mengalami pergantian format. Pada tiga edisi awal, Piala AFF menggunakan format home tournament, yaitu sebuah negara menjadi tuan rumah, mulai dari awal hingga babak final.

Di edisi 2002, Indonesia dan Singapura sama-sama jadi tuan rumah. Namun untuk fase knock-out, semua pertandingan dilaksanakan di Indonesia.

Dua tahun berselang, perubahan format kembali terjadi. Untuk babak penyisihan, Malaysia dan Vietnam jadi tuan rumah turnamen. Namun perbedaannya adalah ketika turnamen memasuki fase knock-out, maka digunakan sistem kandang-tandang antara kedua tim yang berlaga.

Format seperti itu bertahan hingga edisi 2016, namun dua tim yang kalah di babak semifinal tak lagi memperebutkan posisi ketiga sejak Piala AFF 2007.

Perubahan format akhirnya kembali terjadi di Piala AFF 2018. Dengan pertimbangan untuk bisa menarik lebih banyak penonton, maka laga Piala AFF tahun ini dimainkan dengan sistem kandang-tandang. Di babak penyisihan, masing-masing tim mendapatkan kesempatan dua kali main kandang dan dua kali main tandang melawan empat lainnya yang ada di grup tersebut. Masuk ke fase gugur, laga kandang-tandang kembali dimainkan.

Di balik kemeriahan dan rekor-rekor yang tercipta, Piala AFF juga menyimpan sejarah kelam untuk dunia sepak bola. Sejarah kelam itu adalah "sepak bola gajah" yang melibatkan Timnas Indonesia dan timnas Thailand di Piala Tiger 1998.

Timnas Indonesia dan Thailand saat itu sama-sama berupaya menghindari kemenangan yang membuat mereka bakal jadi juara grup. Pasalnya juara grup akan berjumpa tuan rumah Vietnam di babak semifinal yang di atas kertas dianggap lebih menyulitkan dibandingkan Singapura.

Alhasil, Timnas Indonesia dan Thailand tak menunjukkan kengototan saat bertanding dan puncaknya adalah gol bunuh diri Mursyid Effendi yang membuat Thailand menang 3-2. Ironisnya, Indonesia justru kalah 1-2 dari Singapura di semifinal. Singapura akhirnya malah berhasil jadi juara dengan mengandaskan Vietnam 1-0 di partai puncak.

 

Sumber : cnnindonesia.com