BBM dan TDL Belum Dikhawatirkan Picu Inflasi

By PUBinfo Redaksi 19 Jun 2017, 15:14:33 WIB | dibaca : 231 pembaca

BBM dan TDL Belum Dikhawatirkan Picu Inflasi

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan optimis pengendalian inflasi dilakukan dengan baik. Harga BBM dan tarif dasar listrik tidak terlalu membuat khawatir, dengan koordinasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang menjaga stabilitas inflasi dengan menyediakan pasokan.

“Kami sambut baik, sekarang inflasi masih di kisaran 0,5%. Maka (inflasi Juni) year-on-year (yoy) berdasar survei minggu kedua sebesar 4,17%. Itu lebih baik dibanding bulan lalu 4,33%. Kami lihat pengendalian inflasi dilakukan dengan baik terutama pasokan yang memadai," kata Agus di Kementerian Keuangan Jakarta, Senin (19/6).

Selain itu, lanjut Agus, kekhawatiran mengenai kenaikan harga BBM juga belum memicu peningkatan inflasi.

"Karena yang kami lihat sekarang ini inflasi sejalan dengan target kami 4% plus minus 1%. Inflasi Ramadan dan Idul Fitri menjadi tantangan kami agar inflasi sesuai target," katanya.

Adapun untuk pengaruh penaikan tarif dasar listrik kelompok 900 VA, agus menilai sejak sebelumnya hampir setiap bulan ada dampak. Namun BI melalui survei minggu kedua, lanjut Agus, BI tetap optimistis dampak inflasi dari TDL tersebut tetap terjaga.

"Tapi dengan kami lakukan survei dan di minggu kedua (dampak TDL) 0,5% dan yoy 4,17%, menunjukkan insya Allah inflasi terjaga,” tambah mantan Menteri Keuangan itu.

Di sisi lain, memperoleh Investment grade dari Standard & Poor, arus modal masuk (capital inflow) ke pasar modal mencapai Rp106 triliun dari awal tahun hingga pekan pertama bulan Mei. Jumlah tersebut lebih besar dari tahun lalu yang sebesar Rp75 triliun.

“Kami lihat inflow cukup besar karena banyak yang minat pada surat berharga negara. Kami lihat ke depan akan ada inflow yang mengarah pada investasi langsung asing. Mungkin semester II 2017 dan 2018 itu akan terjadi," harapnya.

Adapun mengenai posisi rupiah tidak terlalu menguat walaupun arus modal asing cukup besar. Agus melihat, secara umum, posisi kurs rupiah mencerminkan harga dari pada fundamental.

"Kalau sekarang ini kurs mencerminkan kondisi pasar. Kami tahu kalau di Q2 (kuartal II) setiap tahun rekaman itu rupiah cukup besar karena ada permintaan untuk impor, sehubungan dengan persiapan hari raya. Tapi yang lazim terjadi adalah kewajiban yang perlu dibayar ke luar negeri yang cukup besar. khususnya dalam rangka dividen ataupun kewajiban berupa bunga yang harus dibayarkan ke luar negeri," terangnya.

Sebaliknya mengenai defisit transaksi berjalan (curent account deficit/CAD), Agus mengatakan di kuartal I 2017 ialah sebesar 1%. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat di kuartal II menjadi 2%. Kondisi tersebut itu dilihatnya masih cukup baik.

"Jadi saya lihat ini kondisi yang mencerminkan pasar tapi CAD sepanjang 2017 kami perkirakan 1,8% dari PDB jadi menunjukkan CAD yang terjaga dengan baik,” ulasnya.

Mengenai pertumbuhan ekonomi di Kuartal III juga diperkirakan Agus akan tetap berada di antar 5%-5,4%. Sebab Pertumbuhan ekonomi di kuartal II kemungkinan agak sedikit lebih rendah.

“Artinya pertumbuhan ekonomi bergeser ke Q3 (kuartal III) . Kami lihat investasi swasta sudah mulai bangkit, bahkan yg non bangunan. Ini mencerminkan nanti pertumbuhan ekonomi 2018 lebih baik,” tukas Agus. (OL-6)

 

Sumber: mediaindonesia

View all comments

Write a comment

(Input Kode Di Samping Dengan Benar)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, RSS Feed dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Komentar Terakhir