Defisit Neraca Pembayaran RI Turun Jadi US$ 46 Juta

By PUBinfo Redaksi 08 Nov 2019, 13:34:36 WIB | dibaca : 31 pembaca

Defisit Neraca Pembayaran RI Turun Jadi US$ 46 Juta

Foto: Dikhy Sasra/detikFinance

Jakarta - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2019 tercatat sebesar US$ 46 juta. Meskipun masih mengalami defisit, namun angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar US$ 2 miliar.

Direktur Eksekutif Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan penurunan defisit NPI itu menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

"Kondisi tersebut ditopang oleh defisit neraca transaksi berjalan yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat," ujarnya dilansir dari laman resmi BI, Jumat (8/11/2019).

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September 2019 mencapai US$ 124,3 miliar. Angka itu naik dari posisi akhir Juni 2019 sebesar US$ 123,8 miliar.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa itu juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

"Defisit neraca transaksi berjalan membaik didukung oleh menurunnya defisit neraca perdagangan migas di tengah surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil," tambahnya.

Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III-2019 tercatat sebesar US$ 7,7 miliar atau 2,7% dari PDB, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 8,2 miliar atau 2,9% dari PDB.

Menurut Onny perbaikan kinerja neraca transaksi berjalan terutama ditopang oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan barang, sejalan dengan menurunnya defisit neraca perdagangan migas di tengah surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil.

Membaiknya defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi oleh impor migas yang menurun. Hal itu sejalan dengan dampak positif kebijakan pengendalian impor, misalnya program B20.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat stabil di tengah perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun. Defisit neraca transaksi berjalan yang membaik juga didukung oleh penurunan defisit neraca pendapatan primer akibat lebih rendahnya repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri.

Selain itu BI mencatat adanya surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat. Hal itu mencerminkan masih tingginya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian domestik.

Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan III-2019 tercatat sebesar US$ 7,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 6,5 miliar.

"Peningkatan surplus transaksi modal dan finansial terutama didukung oleh membaiknya kinerja investasi portofolio, seiring meningkatnya aliran masuk modal asing pada aset keuangan domestik. Peningkatan surplus juga disebabkan oleh menurunnya defisit investasi lainnya yang dipengaruhi oleh lebih tingginya penarikan neto pinjaman luar negeri sektor swasta dan lebih rendahnya pembayaran neto pinjaman luar negeri pemerintah," ujar Onny.

Ke depan, kinerja NPI diperkirakan tetap baik. Prospek NPI tersebut didukung oleh defisit transaksi berjalan 2019 dan 2020 yang diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5%-3,0% PDB dan aliran masuk modal asing yang tetap besar.

 

Sumber : detik.com