Hari Ini Pencarian Korban Dihentikan

By PUBinfo Redaksi 11 Okt 2018, 13:59:34 WIB | dibaca : 62 pembaca

Hari Ini Pencarian Korban Dihentikan

Hari Ini Pencarian Korban Dihentikan

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan pencarian atau evakuasi korban jiwa resmi dihentikan pada 11 Oktober 2018.

Penghentian ini ditandai dengan pernyataan pemerintah sekaligus doa bersama. Rencananya, proses ini akan digelar di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge. Tiga lokasi ini bakal ditutup dan dijadikan Ruang Terbuka Hijau, tempat bersejarah dengan pembangunan monumen.

Walaupun pemerintah resmi menghentikan pencarian, masyarakat dan relawan masih diperbolehkan melakukan pencarian. Hal ini sejalan dengan pembersihan oleh pemerintah. Jika masih ditemukan korban, BNPB akan tetap meng-update data berdasar perkembangan di lapangan.

Hingga kemarin korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Sulteng mencapai 2.045 jiwa. BNPB memas tikan seluruh korban yang ditemukan telah dimakamkan dengan perincian pemakaman massal 969 jenazah dan pemakaman keluarga 1.079 jenazah.

“Evakuasi atau pencarian korban jiwa akan dihentikan 11 Oktober 2018. Namun untuk masa tanggap darurat akan dibahas lebih lanjut.”

“Layanan kebutuhan dasar bagi pengungsi, layanan kesehatan, distribusi logistik, layanan sekolah darurat, pembangunan huntara (hunian sementara) dan lainnya dilanjutkan hingga akhir Oktober 2018,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jakarta, kemarin.

Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat sebanyak 2.549 orang terkena luka berat dan 8.130 mengalami luka ringan. Korban yang hilang berdasarkan laporan sebanyak 671 orang. Sutopo menjelaskan, jumlah pengungsi yang berada di Sulawesi Tengah sebanyak 74.044 orang dan terbagi di 112 titik.

Kemudian, pengungsi yang keluar dari Sulawesi Tengah mencapai 8.731 orang. Mengenai proses relokasi, Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo mengungkapkan pihaknya terus melakukan upaya untuk mencari tempat yang layak relokasi korban gempa dan tsunami yang minim terdampak proses likuifaksi atau fenomena mencairnya sedimen bawah tanah akibat gempa.

“Saat ini kami masih melakukan penelitian agar segera direkomendasikan kepada pemerintah daerah setempat agar proses relokasi bisa segera dilak sanakan,” ungkapnya di kantor BNPB, Jakarta, kemarin.

Antonius juga mencatat ada 2 kota di Indonesia telah memiliki peta bencana likuifaksi Peta tersebut disusun oleh Badan Geologi Kementerian ESDM.

“Sejauh ini 2 kota yang sudah memiliki peta likuifaksi. Sebagian besar kota besar yang berada di daerah rawan gempa. Kota Padang, Mataram dan Yogyakarta sudah memiliki peta bencana likuifaksi. Penelitian likuifaksi telah dilakukan Badan Geologi Kementerian ESDM sejak gempa Padang di tahun 2012.”

Antonius menambahkan, karakteristik likuifaksi di setiap daerah berbeda-beda. Misalnya di bencana gempa Yogyakarta tahun 2006, di satu kawasan hanya satu rumah tenggelam oleh lumpur.

“Tidak semua likuefaksi itu sama. Pada gempa Yogyakarta hanya 1 rumah yang tenggelam, sebelahnya tidak. Jadi peta ini untuk melihat seberapa besar peluang terjadi likuefaksi. Seperti likuifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah. Likuifaksi itu terjadi di Perumnas Balaroa, Petobo (Kota Palu), dan Desa Jono Oge (Kabupaten Sigi).

 

Sumber : sindonews.com