Menhan: Terorisme Bukan Islam, Kita Harus Berantas

By PUBinfo Redaksi 08 Nov 2018, 11:27:16 WIB | dibaca : 49 pembaca

Menhan: Terorisme Bukan Islam, Kita Harus Berantas

Menhan Ryamizard Ryacudu memberi sambutan di seminar Indo Defence (Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom)

Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu memberi sambutan di acara seminar Indo Defence. Menhan menyoroti aksi-aksi dari para kelompok terorisme.

"Sekali lagi, (teroris) mereka bukan Islam. Saya malu kita jadi dicurigai karena Islam. Kita harus berantas teroris itu," kata Ryamizard, Kamis (8/11/2018).

Ryamizard menyampaikan hal ini dalam sambutannya di seminar Indo Defence bertajuk "Ensuring Regional Stability through Cooperation on Counter Terrorism" di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Dia menambahkan ada dua ancaman yang dihadapi negara-negara saat ini termasuk negara Indonesia.

Dua ancaman itu yakni ancaman nyata dan ancaman belum nyata. Ancaman belum nyata yakni perang antarnegara. Sementara ancaman nyata yaitu terorisme, bencana alam, hingga pemberontakan.

Ia menyebut sangat tidak suka dengan teroris dan pemberontakan. Untuk menghadapi teroris disebutnya harus dengan kekuatan seluruh masyarakat Indonesia.

"Yang nyata sekali adalah teroris. Teroris yang kita hadapi sekarang adalah teroris generasi ketiga. Pertama adalah Al-Qaeda dia menghantam ke barat. Kedua ini seluruhnya dia ngaku-ngaku Islam dan merusak Islam. Sebenarnya teroris musuh Islam karena merusak nama Islam," kata Ryamizard.

"Generasi kedua itu ISIS, ketiga adalah pahlawan atau pejuang yang pulang dari Suriah, Afghanistan nah itu generasi ketiga," sambungnya.

Ia menyoroti kelompok teroris ISIS. Ia menyebut ISIS lahir akibat konflik politik di Irak dan Suriah. ISIS tidak ada kaitannya dengan Islam.

"ISIS pada mulainya hanyalah kekuatan di Irak. Di sini perlu kita garis bawahi bahwa ISIS hanyalah buah dari konflik politik Irak-Suriah yang nggak ada kaitannya dengan agama. Dia biar keren ngaku Islam biar semua dunia bantu dia, (padahal) dia merusak Islam," kata Ryamizard.

Kelompok teroris itu sering mengubah strateginya agar tidak terlacak oleh pihak keamanan. Untuk itu, Ryamizard menyebut Polri-TNI dan seluruh masyarakat Indonesia harus bekerja sama menghadapi musuh semua negara itu.

"Bahwa operasi terus berubah agar tidak mudah dideteksi oleh aparat keamanan, seperti yang terjadi di Indonesia kelompok ISIS gunakan modus baru dengan satu keluarga yang terjadi di Surabaya," kata Ryamizard.

 

Sumber : detik.com