Menko Darmin Minta Menteri Rini Pantau Langsung Impor Jagung

By PUBinfo Redaksi 24 Jan 2019, 09:38:25 WIB | dibaca : 39 pembaca

Menko Darmin Minta Menteri Rini Pantau Langsung Impor Jagung

Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani).

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku telah meminta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno untuk memantau langsung pelaksanaan distribusi jagung hasil impor sebanyak 100 ribu ton yang dilakukan sejak tahun lalu.

Menurutnya, Rini perlu ikut memantau karena memimpin kementerian teknis yang bertanggung jawab atas Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog). Seperti diketahui, Bulog bertugas menjamin jagung impor tersebut terdistribusi dengan baik.

Dalam perkembangannya, sejumlah pihak masih kerap mengeluhkan pelaksanaan distribusi jagung impor, misalnya dari pabrikan pakan. Mereka mengaku masih kesulitan mendapat jagung sebagai bahan baku pakan ternak. Jikapun tersedia, harga jagung terbilang masih tinggi.

"Saya tugaskan Menteri BUMN dan Bulog cek di lapangan, tapi saya baru dilaporkan hasilnya nanti sore, bagaimana situasi di lapangan," ucap Darmin di Istana Negara, Rabu (23/1).

Darmin menduga terjadi keluhan pasokan jagung karena sisa impor yang dilakukan pemerintah masih belum memenuhi kebutuhan jagung yang juga meningkat. Berdasarkan catatannya, sisa impor jagung yang belum digelontorkan sekitar 26 ribu ton dari total 100 ribu ton.

"Itu sebenarnya sudah siap dijual, tapi permintaannya lebih besar dari itu. Makanya nanti dilihat Menteri BUMN dan kami sampaikan seperti apa," katanya.

Lebih lanjut, Darmin bilang hasil laporan Rini nantinya juga akan menunjukkan alasan harga jagung masih tinggi. Menurut catatannya, harga jagung impor yang digelontorkan Bulog seharusnya hanya sekitar Rp4.000 per kilogram (kg).

"Tapi harga yang ada di peternak dan petelor masih sekitar Rp6.000 per kg, bahkan Rp7.000 per kg. Makanya kami mau cek sudah impor, kok belum turun?" ungkapnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso enggan disalahkan dengan situasi yang terjadi saat ini. Menurutnya, Bulog sudah mendata kebutuhan jagung dari semua kalangan pengusaha, baik yang kecil sampai besar. Hasilnya, hanya pengusaha kecil yang mengajukan penambahan pasokan, sedangkan pengusaha kelas besar tidak meminta tambahan.

"Setelah kami putuskan di rakortas, ternyata banyak yang lainnya, banyak yang minta (jagung impor). Jadi, kan bukan salah kami gitu ya. Pemerintah ini kan berusaha memenuhi apa yang menjadi kebutuhan peternak," jelasnya.

Buwas juga membantah bila masih ada pasokan jagung yang tersisa di gudangnya. Menurutnya, hasil impor jagung sebanyak 100 ribu ton sudah seluruhnya habis disebar ke peternak kecil dan tidak ada lagi di gudang Bulog. Adapun, tambahan pasokan impor jagung baru tersedia dalam beberapa bulan ke depan.

 

Sumber : cnnindonesia.com