Mentan Buka-bukaan Soal Alasan Impor Jagung di Tengah Surplus

By PUBinfo Redaksi 08 Nov 2018, 11:29:40 WIB | dibaca : 49 pembaca

Mentan Buka-bukaan Soal Alasan Impor Jagung di Tengah Surplus

Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman meninjau pasar induk Cipinang (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan perihal kebijakan impor jagung yang dilakukan pemerintah di tengah surplus komoditas pangan itu.

Dia mengatakan impor yang akan dibuka hanya berkisar 50.000 ton hingga 10.0000 ton, atau jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 2014 hingga 2016.

"Kita harus berangkat dari 2014. Itu impor kita 3,5 juta ton setara Rp 10 triliun. Waktu itu impor biasa-biasa saja, tidak ada gaduh," katanya di Pasar Induk Cipinang, Kamis (8/11/2018).

Kemudian, dia melanjutkan, pada 2015 masih dibuka keran impor jagung namun dengan volume berkurang menjadi 2 juta ton. Lalu, penurunan volume impor kembali berkurang pada 2016 di mana hanya menjadi 900.000 ton.

Amran juga memaparkan kondisi pada 2017 di mana impor jagung disetop, dan kemudian pada 2018 di mana Indonesia justru berhasil melakukan ekspor.

"Dulunya impor dari Amerika dan Argentina. Sekarang pecah telur ekspor, ini sejarah pertama Indonesia mengekspor sebesar itu dan menyetop impor," ujar dia.

Dia kemudian menyinggung munculnya pertanyaan mengapa harus impor jagung 50.000-100.000 ton, jika Indonesia bisa ekspor dan produksi jagung masih dinyatakan surplus 13 juta ton.

"Kemudian yang dipertanyakan, kalau 50.000 atau 100.000 impor. [Itu] artinya masih surplus kan. Masih berprestasi petani kita, tolong harga petani Indonesia. Kalau tidak mau hargai saya, enggak masalah. Itu saudara kita sendiri yang berproduksi."

"Nah [impor] 50.000 ton ini tidak ada artinya. Sangat kecil. Dan ini sebagai alat kontrol saja. Untuk stabilitas harga. Nanti disimpan Bulog. Kalau harga turun tidak akan keluar. Dan sebentar lagi kita panen raya," jelas Amran.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan harga jagung saat ini memang tergolong mahal. Impor diperlukan untuk menurunkan harga jagung ke level Rp 4.000/kg. Adapun pantauan Satgas Pangan, harga jagung di pasar bisa mencapai Rp 5.200-5.300/kg.

 

Sumber : cnbcindonesia.com