Menteri Kabinet Kerja Hadiri Peringatan Hari Pers Nasional

By PUBinfo Redaksi 09 Feb 2016, 09:32:18 WIB | dibaca : 200 pembaca

Menteri Kabinet Kerja Hadiri Peringatan Hari Pers Nasional

Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) berjalan bersama Ketua Umum PWI Pusat yang juga Penanggung Jawab Hari Pers Nasional (HPN) 2016 Margiono (kanan) dan sejumlah panitia HPN 2016 usai melakukan pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (20/1). (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Lombok Tengah, -- Sejumlah menteri Kabinet Kerja dan pejabat publik menghadiri peringatan Hari Pers Nasional 2016, di Pantai Kuta Pujut Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, hari ini, Selasa (9/2).

Seperti dilansir Antara, beberapa menteri Kabinet Kerja yang sudah hadir hingga pukul 09.30 WITA antara lain Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Jaksa Agung M. Prasetyo.

Hadir pula Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil juga hadir dalam perhelatan HPN yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun PWI tersebut.

Tjahjo Kumolo mengatakan, peran pers sangat strategis karena melalui informasi yang disampaikan kepada masyarakat, kinerja pemerintah dapat diketahui publik. Pers dianggap Tjahjo sebagai mitra kritis dan objektif bagi pemerintah untuk menampung suara masyarakat.

Sementara Anies Baswedan mengatakan, pers harus menjadi pendorong optimisme dalam masyarakat dengan memberikan informasi secara utuh dan objektif kepada publik.

“Media harus memberikan harapan bukan memangkas harapan," kata Anies.

Menurut Anies, untuk menyajikan berita yang utuh dan objektif, faktor akurasi harus menjadi tumpuan utama informasi yang disajikan kepada publik. Namun selama ini, faktor kecepatan menjadi pendorong utama pers menyajikan berita kepada masyarakat namun menomorduakan akurasi.

"Saya menilai pers harus kembalikan akurasi dan kredibilitas," ujarnya.

Dia mencontohkan ketika peristiwa kerusuhan di Tolikara, Papua, beberapa bulan lalu, dalam hitungan menit sudah menjadi berita. Media televisi menahan berita tersebut sebelum ada informasi yang akurat dan kredibel.

"(Pemberitaan media) jangan mengejar sensasi namun mari amankan informasi secara akurat," katanya.

 

Sumber: cnnindonesia