OJK Perkirakan Nilai Emisi di Pasar Modal Rp200 T pada 2020

By PUBinfo Redaksi 18 Jan 2020, 13:51:19 WIB | dibaca : 55 pembaca

OJK Perkirakan Nilai Emisi di Pasar Modal Rp200 T pada 2020

Foto: Ilustrasi

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan nilai emisi di pasar modal sebesar Rp170 triliun-Rp200 triliun pada tahun ini. Nilai emisi berasal penerbitan obligasi, rights issue, dan aksi penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO).

Ketua Dewan Komisioner Wimboh Santoso menjelaskan prediksi itu dengan target penambahan ada 70 emiten baru pada 2020. Namun, hal itu akan bergantung dengan kondisi ekonomi dalam negeri.

Ia berpendapat ekonomi domestik masih diwarnai risiko perlambatan. Hal ini sejalan dengan kondisi di ekonomi global yang serba tak pasti dan gejolak geopolitik di sejumlah kawasan.

Kendati begitu, ia optimistis ekonomi Indonesia bisa bertahan ditopang oleh selesainya sejumlah proyek infrastruktur strategis dan rancangan undang-undang (ruu) mengenai Omnibus law.

"OJK optimistis perbaikan pertumbuhan ekonomi dan kinerja sektor jasa keuangan yang positif akan berlanjut pada 2020," papar Wimboh, Kamis (16/1).

Berdasarkan catatan, BEI mencatat hanya 55 perusahaan yang melakukan IPO sepanjang tahun lalu. Jumlahnya turun dibandingkan dengan 2018 yang mencapai 57 perusahaan.

Dengan realisasi itu, total dana yang dihimpun dari IPO sebesar Rp14,78 triliun pada 2019 atau turun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp15,67 triliun.

Sementara itu, OJK juga menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 11 persen plus minus 1 persen. Wimboh bilang hal itu disesuaikan dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) 2020 yang menargetkan pertumbuhan kredit meningkat 10 persen.

Jika tercapai, maka peningkatan penyaluran kredit tahun ini akan signifikan dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. OJK mencatat pertumbuhan kredit sepanjang 2019 melambat hanya 6,08 persen, turun dari 2018 yang mencapai 11,7 persen.

Perlambatan itu, tambah Wimboh terjadi lantaran banyak korporasi yang mengajukan pinjaman dari luar negeri. Dengan demikian, penyaluran kredit dari bank dalam negeri lebih sepi.

"Ada hal fundamental karena korporasi lebih banyak menggunakan sumber pembiayaan offshore (dari luar negeri)," pungkas Wimboh.

 

Sumber ; cnnindonesia.com