Polri Kerjasama dengan Malaysia Usut Kasus Mutilasi WNI Bos Tekstil

By PUBinfo Redaksi 12 Feb 2019, 13:33:47 WIB | dibaca : 55 pembaca

Polri Kerjasama dengan Malaysia Usut Kasus Mutilasi WNI Bos Tekstil

Foto: Ilustrasi

Jakarta Polri bekerjasama dengan pihak kepolisian Malaysia dalam upaya mengusut tuntas kasus pembunuhan dengan mutilasidua Warga Negara Indonesia (WNI). Salah satunya merupakan pengusaha tekstil asal Bandung.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyampaikan, pihak KBRI turut berkoordinasi dengan Polisi Diraja Malaysia (PDRM). Dari hasil komunikasi, pihak PDRM meminta sejumlah bukti tambah untuk memperkuat identifikasi korban atas nama Nuryanto dan Ai Munawaroh.

"Data-data yang diminta PDRM yang akan dilengkapi KBRI antar lain dari sidik jari. Kebetulan sidik jari yang diketemukan di TKP baru satu tangan. Diidentifikasi tangan tersebut tangan laki-laki. Jadi sangat besar kemungkinan tangan tersebut milik saudara Nuryanto," tutur Dedi di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019).

Menurut Dedi, pihaknya juga memberikan informasi detail dari hasil percakapan Whatsapp korban.

"Kemudian juga diminta dari pihak Malaysia informasi transaksi rekening keuangan rekening BCA atas nama saudara Nuryanto. Itu juga akan kita berikan. Penguatan alat bukti tersebut sangat penting ungkap kasus ini setuntas-tuntasnya," jelas dia.

Untuk identifikasi korban, Polri memberikan pula sampel DNA keluarga korban ke kepolisian Malaysia. Hal itu tentu demi meyakinkan PDRM terkait proses pidana para terduga pelaku yang disasar.

"Dari pihak kepolisian bantu support sepenuhnya apa yang dibutuhkan PDRM melalui KBRI dan Kemenlu," Dedi menandaskan.

Polisi Malaysia menginformasikan bahwa jasad diduga Nuryanto ditemukan di sekitar sungai Buloh, Selangor, pada 26 Januari 2019. Dia merupakan pengusaha tekstil asal Bandung.

Dari pihak keluarga sendiri menyampaikan bahwa Nuryanto berangkat ke Malaysia dalam rangka urusan bisnis pada Kamis 17 Januari 2019. Hanya saja, mereka kehilangan kontak pada 22 Januari 2019.

 

Sumber : liputan6.com