YLKI : Perlu Pengawasan Ketat Dalam Pengggunaan Antibiotik

By PUBinfo Redaksi 16 Mar 2016, 10:55:28 WIB | dibaca : 365 pembaca

YLKI : Perlu Pengawasan Ketat Dalam Pengggunaan Antibiotik

YLKI : Perlu Pengawasan Ketat Dalam Pengggunaan Antibiotik

Tidak hanya di kalangan medis, namun antibiotik kini juga digunakan masyarakat yang semakin meluas. Beberapa diantaranya percaya antibiotik mampu menjadi penyembuh pada segala macam penyakit.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, masyarakat biasa menggunakan antibiotik, padahal tidak diketahui penyakit yang diderita disebabkan oleh bakteri. Kedisiplinan mengonsumsi antibiotik pada dasarnya juga harus secara total dihabiskan sesuai dengan anjuran dokter.

Selain itu, ia juga khawatir dengan penggunaan antibiotik yang disalahgunakan oleh para peternak untuk memacu pertumbuhan hewan. Penggunaan tersebut akan menghasilkan residu antibiotik pada daging hewan ternak yang nantinya akan dikonsumsi masyarakat.

"Dipastikan paparan masyarakat terhadap antibiotik begitu banyak sehingga akan memperbesar kemungkinan untuk terjadinya resistensi. Jika hal tersebut diabaikan maka akan semakin banyak kasus kematian yang disebabkan oleh resistensi, di mana penyakit infeksi yang awalnya mudah untuk disembuhkan menjadi lebih sulit," ungkap Tulus.

Ia mengatakan, guna menjunjung tinggi hak-hak konsumen, YLKI menegaskan perlu adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan antibiotik di dunia medis. Pemberian antibitotik secara selektif sepatutunya dilakukan oleh tenaga medis untuk mempersempit kemungkinan penyelahgunaan antibiotik hingga berakibat pada resistensi.

"Pengawasan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan di dunia peternakan harus ditingkatkan. Peternakan merupakan awal dari rantai pangan hewani, sangat disayangkan jika di hulu pangan saja kualitasnya sudah terkontaminasi oleh adanya residu antibiotik yang ikut serta menjadi faktor meningkatnya resistensi jika ikut dikonsumsi masyarakat," paparnya.

Di samping itu, ia meminta perlu adanya pemastian mutu untuk produk pangan hewani dalam kemasan. Menurutnya, bukan hal yang mustahil ketika di hulu sudah terkontamisasi residu antibiotik, maka produk kemasan yang berbasis hewan ternak terdapat antibiotik juga.

Ia pun mengajak masyarakat untuk bisa lebih bijak dalam mengunakan obat ini. Tulus menegaskan antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan bukan obat dari segala penyakit.

"Faktanya dokter terlalu mudah memberikan antibiotik pada pasiennya, sakit sedikit diberikan antibiotik. Di Indonesia ada 28 persen masyarakat yang menyimpan antibiotik," kata dia.

Sumber : Republika