GSBI - Gabungan Serikat Buruh Indonesia

Di Kutip Oleh : Redaksi PUBinfo

Tentang Kami

Tentang Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) :

"Tidak akan ada perbaikan nasib yang kekal dan sempurna tanpa perjuangan dari kaum buruh sendiri, tidak akan ada kemenangan yang kekal dan sempurna kecuali ada persatuan dari segenap kaum buruh. Untuk perjuangan dan persatuan, kaum buruh harus punya senjata, yaitu senjata yang ke satu adalah SERIKAT BURUH. Tetapi dengan serikat buruh yang sendiri-sendiri, belum cukup sarat-saratnya guna membela kepentingan-kepentingan dari kaum buruh. Senjata yang ke dua ialah kaum buruh harus mempunyai VAKSENTRAL (pusat perjuangan kaum buruh dan serikat buruh). Vaksentral inilah yang akan; mempersatukan perjuangan serikat buruh-serikat buruh, mengkonsolidasikan organisasi serikat-serikat buruh, memimpin langkah-langkah perjuangan yang rapat dan kompak bersatu, serta memelihara setia kawan (solidaritas) dalam praktek dikalangan segenap kaum buruh. Maka semboyan kaum buruh dalam tingkat sekarang adalah konsolidasi dan kordinasi jalannya adalah bersatu dan bersatu serta masuk dalam vaksentralnya yaitu GSBI, Gabungan Serikat Buruh Independen".

Gabungan Serikat Buruh Independen/Federation of Independen Trade Union yang selanjutnya di singkat GSBI didirikan/dideklarasikan pada tanggal 21 Maret 1999 di Jakarta. GSBI adalah organisasi Pusat Perjuangan Buruh dari berbagai macam bentuk organisasi serikat suruh sektoral dan non-sektoral yang independen, militant, patriotik dan demokratis. GSBI terbentuk dan lahir dalam semangat persatuan dan dalam gelora perjuangan rakyat untuk perubahan untuk menggulingkan rezim otoriter Suharto untuk demokrasi sejati. GSBI didirikan sebagai pusat perjuangan buruh Indonesia untuk bekerja dan berjuang mempersatukan kaum buruh dan serikat buruh-serikat buruh, mengkonsolidasikan organisasi serikat-serikat buruh, memimpin langkah-langkah perjuangan yang rapat dan kompak bersatu, serta memelihara setia kawan [solidaritas] dalam praktek dikalangan segenap kaum buruh dalam garis serikat buruh sejati yang Independen, militan, patriotik dan demokratis, untuk membela, melindungi, mempromosikan dan memperjuangkan hak dan kepentingan kaum buruh untuk mendapatkan pekerjaan, upah yang layak, jaminan sosial, kondisi kerja dan syarat-syarat kerja yang manusiawi, hak untuk kebebasan serikat buruh, berunding secara kolektif, hak untuk mogok, untuk kemerdekaan nasional yang penuh, demokrasi dan solidaritas internasional untuk perdamaian diantara bangsa-bangsa. Untuk memastikan dan mewujudkan partisipasi kaum buruh yang nyata dalam perjuangan demokratis nasional, pekerjaan serta kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Organisasi GSBI bersifat Independen, terbuka, militan, nasional patriotik, demokratis, dan bertangung jawab serta tidak menjadi bagian atau onderbouw dari salah satu partai politik.

Sedangkan Bentuk dari organisasi GSBI adalah organisasi Pusat Perjuangan Buruh [vakksentral] dari berbagai macam bentuk organisasi serikat buruh sektoral dan non-sektoral.

Organisasi GSBI berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta Solidaritas Buruh Seluruh Dunia.

Adapun yang menjadi Tujuan GSBI didirikan adalah :

  1. Mempersatukan dan memperkuat perjuangan sosial ekonomi dan politik kaum buruh dalam menghadapi penindasan dan penghisapan.
  2. Meningkatkan kesadaran politik kaum buruh melalui pendidikan yang intensif, pengorganisasian, mobilisasi dan pemogokan untuk perjuangan dalam meningkatkan kesejahteraan kaum buruh dan keluarganya.
  3. Membela, melindungi, mempromosikan dan memperjuangkan hak dan kepentingan kaum buruh untuk mendapatkan pekerjaan, upah yang layak, jaminan sosial, kondisi kerja dan syarat-syarat kerja yang manusiawi, hak untuk kebebasan serikat buruh, berunding secara kolektif, hak untuk mogok, untuk kemerdekaan nasional yang penuh, demokrasi dan perdamaian.
  4. Memastikan dan mewujudkan partisipasi kaum buruh yang nyata dalam perjuangan demokratis nasional, pekerjaan, kehidupan berbangsa dan bernegara bersama-sama kelompok masyarakat lainnya dalam mencapai kesejahteraan, kemerdekaan nasional yang penuh dan perdamaian.
  5. Mempersatukan perjuangan serikat buruh-serikat buruh, mengkonsolidasikan organisasi serikat-serikat buruh, memimpin langkah-langkah perjuangan yang rapat dan kompak bersatu, serta memelihara setia kawan [solidaritas] dalam praktek dikalangan segenap kaum buruh.

Sedangkan Fungsi GSBI hadir adalah :

  1. Sebagai alat perjuangan kaum buruh dalam meningkatkan kesejahteraan buruh dan keluarganya serta memberikan perlindungan hak serta kepentingan bagi kaum buruh dari kondisi kerja yang buruk serta hantaman arus modal dalam negeri dan modal asing.
  2. Mempersatukan kaum buruh dan berbagai macam bentuk organisasi serikat buruh sektoral dan non-sektoral untuk mewujudkan solidaritas dalam mempertahankan, mempromosikan hak dan kepentingan kaum buruh serta memperkuat perjuangan perbaikan sosial ekonomi dan politik kaum buruh.
  3. Sebagai sekolah bagi kaum buruh untuk memiliki kemampuan seni memimpin dan kepemimpinan yang handal, menciptakan agitator dan propagandis handal serta ketrampilan dalam mengatur organisasi dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, kursus-kursus serta pusat informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran, mutu pengetahuan, keterampilan dan produktivitas yang menyangkut perkembangan perburuhan dalam rangka pengembangan dan penguatan serikat buruh dan perjuangannya. 
  4. Memperjuangkan terwujudnya syarat-syarat dan kondisi kerja yang manusiawi dengan berbagai cara, termasuk melalui Perjanjian Kerja Bersama [PKB] maupun dengan mempengaruhi kebijakan pemerintah di bidang perburuhan.
  5. Mempengaruhi kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan masalah-masalah perburuhan baik hak ataupun kepentingan kaum buruh dan rakyat banyak lainnya.
  6. Memperjuangkan terwujudnya perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang berpihak pada kaum buruh.
  7. Mendorong dan terciptanya usaha-usaha ekonomi yang mandiri dan berkeadilan sosial.
  8. Sebagai wakil kaum buruh dalam lembaga-lembaga ketenagakerjaan nasional dan internasional.
  9. Sarana membangun kerja sama dan menggalang solidaritas dengan badan-badan sosial serta organisasi lain dalam maupun luar negeri baik kaum tani, mahasiswa dan sektor rakyat lainnya serta kekuatan-kekuatan pro demokrasi dan hak azasi manusia untuk perdamaian dunia, menentang dominasi modal dalam negeri ataupun modal asing dan segala bentuk ketidak adilan serta memperjuangkan dan mewujudkan pemerintahan yang berkeadilan social, demokratis dan berdaulat.

Kedaulatan organisasi GSBI berada ditangan anggota dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Kongres Nasional.

Keanggotaan :

  1. Yang diterima menjadi anggota GSBI adalah semua kaum buruh baik yang bekerja di dalam atau di luar negeri terutama yang terorganisir dalam serikat buruh, baik yang berpusat maupun yang lokal dengan tidak membeda-bedakan suku bangsa, keturunan, kedudukan, laki-laki atau perempuan, agama dan keyakinan politik, baik yang bekerja di pabrik, perusahaan-perusahaan, badan-badan pemerintah maupun perusahaan-perusahaan swasta dan semua kaum buruh serta serikat buruh yang menyetujui dan menerima Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GSBI, Program Perjuangan dan Peraturan Organisasi GSBI.
  2. Keanggotaan dalam GSBI dan serikat buruh bersifat terbuka, bertanggung jawab serta berdasarkan pada prinsip sukarela.
  3. Keanggotaan GSBI dan serikat buruh dapat berjalan terus, apabila seorang buruh mendapat uang tungggu, pensiun atau selama di pecat [PHK] dan menganggur.
  4. Keanggotaan GSBI berjalan terus, sekalipun seorang buruh dari perusahaan, instansi pemerintah ataupun perusahaan swasta pindah dari satu kelain lapangan pekerjaan yang masih dalam lingkup wilayah serikat buruh yang tergabung dalam GSBI.

Hak Anggota dalam Organisasi GSBI :

  1. Mendapat bimbingan dan pembelaan dalam  menghadapi kasus-kasus perburuhan serta dalam perjuangan untuk perbaikan nasib dan hak-hak kebebasan berorganisasi.
  2. Memilih dan dipilih.
  3. Mengajukan, menyampaikan pendapat-pendapat, usulan-usulan, gagasan, kritik-kritik untuk kemajuan organisasi didalam rapat atau kepada segenap badan pimpinan organisasi dari bawah sampai keatas dengan cara tertulis ataupun lisan.
  4. Ikut berperan serta dalam setiap kegiatan organisasi termasuk ikut mendiskusikan pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi.
  5. Menerima berbagai pendidikan dan latihan, kursus-kursus serta mempunyai hak menulis dalam majalah atau penerbitan lainnya yang dikeluarkan oleh organisasi.
  6. Mendapatkan Kartu Tanda Anggota [KTA] organisasi.
  7. Mendapatkan informasi dari organisasi.
  8. Membela diri terhadap sanksi yang di jatuhkan oleh organisasi.

Adapun yang menjadi Kewajiban Anggota dalam Organisasi GSBI :

  1. Mentaati Anggara Dasar dan Anggaran Rumah Tangga [AD dan ART], Program perjuangan, Keputusan kongres, serta semua peraturan dan keputusan yang dikeluarkan oleh organisasi.
  2. Membela dan menjunjung tinggi nama baik organisasi.
  3. Membaca dan menyebarluaskan  terbitan organisasi.
  4. Menghadiri rapat-rapat, pendidikan dan latihan, kursus-kursus, pertemuan-pertemuan serta kegiatan lainnya yang diselenggarakan oleh organisasi.
  5. Memberikan laporan tentang soal-soal yang berhubungan dengan perkembangan organisasi.
  6. Membangun, meluaskan organisasi serta memperkuat aliansi  sektoral dan multi sektoral.
  7. Membayar uang pangkal dan uang iuran wajib organisasi.
  8. Terikat dalam satu kelompok atau organisasi.

Keanggota dalam Organisasi GSBI dan Serikat Buruh dapat berakhir masa keanggotaannya apabila :

  1. Seorang buruh berhenti dari keanggotaan GSBI dan serikat buruh karena meninggal dunia, mengundurkan diri dari keanggotaan atas permintaan sendiri atau karena di pecat/dikeluarkan dari keanggotaan oleh organisasi.
  2. Serikat buruh atau organisasi yang bersangkutan membubarkan diri.
  3. Pemecatan/pemberhentian terhadap anggota dilakukan oleh badan pimpinan yang bersangkutan atas persetujuan badan pimpinan diatasnya setelah melalui peringatan-peringatan yang bersifat mendidik dan memberikan waktu percobaan yang cukup untuk menghentikan tindakannya yang merusak dan membahayakan organisasi serta persatuan dikalangan kaum buruh.
  4. Anggota-anggota yang dipecat/diberhentikan berhak membela diri dalam rapat umum anggota, sedangkan bagi anggota-anggota pimpinan berhak membela diri dalam badan organisasi yang memilihnya.
  5. Anggota yang di pecat/dikeluarkan dari organisasi dapat diterima kembali sebagai anggota setelah terbukti memperbaiki sikapnya terhadap organisasi.

Untuk keuangan organisasi GSBI diperoleh dari :

1.    Uang pangkal yang jumlahnya:

  • Sebesar Rp. 25.000,-  [dua puluh lima ribu rupiah] dari buruh yang masuk menjadi anggota serikat buruh tingkat perusahaan [PTP] GSBI.
  • Sebesar Rp. 500.000,-  [lima ratus ribu rupiah] dari serikat buruh tingkat perusahaan [PTP] yang belum mempunyai induk organisasi.
  • Sebesar Rp. 3.000.000,- [tiga juta rupiah] dari serikat suruh induk dan atau Federasi/gabungan satu lapangan/jenis industry dan atau sector dan non-sektor.
  • Sebesar Rp. 5.000.000,- [lima juta rupiah] dari serikat buruh gabungan dan atau konfederasi serikat buruh.

2.    Uang Iuran wajib  anggota yang jumlahnya :

  • Sebesar  0,5 % [nol koma lima persen] dari Upah Minimum Kabupaten/Kota yang berlaku bagi tiap orang anggota/massa buruh yang di bayarkan kepada serikat buruh tingkat perusahaan [PTP] untuk setiap 1 [satu] bulan 1 [satu] kali. 
  • Sebesar 50% [lima puluh persen] dari Serikat Buruh Pusat anggota GSBI baik gabungan/federasi dan konfederasi serikat buruh satu lapangan/jenis industry dan atau sector dan non-sektor serta serikat buruh tingkat perusahaan [PTP] yang belum memiliki induk organisasi/berpusat.

3.    Bantuan dan sumbangan sukarela dari anggota yang tidak mengikat.
4.   Bantuan dan sumbangan dalam bentuk apapun dari pihak lain baik lembaga, organisasi atau individu  yang sah dan tidak mengikat.
5.    Uang konsolidasi
6.    Penerimaan lain yang sah.
7.    Usaha lain yang sah yang dilakukan organisasi.

Sejak kelahirannya, GSBI telah hadir menjadi sebuah organisasi serikat buruh yang mempunyai komitmen dan konsistensi untuk terus berjuang membela kepentingan klas buruh dan rakyat di Indonesia. Sejauh ini, organisasi selalu berperan aktif dalam kampanye tentang upah yang merupakan masalah pokok bagi buruh di Indonesia, melawan sistem kerja kontrak dan outsourcing, PHK, masalah Jaminan sosial, dllnya. Bahkan ditingkat basis, perjuangan untuk perbaikan upah dilakukan jauh lebih hebat dengan menjalankan pemogokan-pemogokan guna memaksa kapitalis memberikan apa yang seharusnya menjadi hak buruh. Tidak hanya tentang isu sektoral klas buruh, sejak satu dasawarsa terakhir, GSBI juga ambil bagian dalam setiap kampanye kaum tani untuk melawan perampasan tanah serta menuntut dijalankannya reforma agraria sejati di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam rangka membangun sinergi diantara gerakan rakyat yang didasari oleh keyakinan bahwa hanya dengan persatuan gerakan rakyat, masalah-masalah utama yang dihadapi oleh rakyat Indonesia dapat diselesaikan.

GSBI sejak kelahirannya juga telah memiliki konsentrasi untuk berlawan terhadap dominasi imperialisme (AS) di Indonesia. Organisasi meyakini, bahwa siapapun rejim yang berkuasa dinegeri ini tidak lebih dari sekedar boneka, pelayan setia bagi kepentingan imperialisme bukan pelayan bagi rakyat Indonesia. Pemerintah Indonesia tidak lagi memiliki kedaulatan, hanya menjadi operator bagi kepentingan imperialisme di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari seluruh kebijakan yang dilahirkan, tidak satupun peraturan-peraturan perundangan yang mempunyai dampak langsung bagi terciptanya kesejahteraan rakyat Indonesia. Sehingga organisasi berkewajiban untuk terus menerus mengkampanyekan setiap kebijakan anti rakyat yang dilahirkan oleh rejim, organisasi terus berusaha agar tidak absen dalam kampanye melawan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. (-)

 “Bahwa, gerakan buruh yang militan hanya akan berkembang dan meluas ketika organisasi-organisasi serikat buruh mampu memainkan perannya sebagai alat perjuangan bagi klas buruh untuk senantiasa melakukan perjuangan dan perlawanan terhadap musuh-musuh klas-nya”.

Sejarah Singkat Lahirnya GSBI

Proses lahirnya Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) dalam kancah perserikat buruhan di Indonesia pembangunannya jauh sudah di mulai sejak tahun 80-an yang di rintis oleh beberapa aktivis dan tokoh buruh dan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pejuang hak buruh yaitu SISBIKUM [Yayasan Saluran Informasi Sosial dan Bimbingan Hukum] dengan cara melakukan kerja-kerja penyadaran dan pengorganisasian, pendidikan dan bantuan hukum/advokasi buruh di tingkat komunitas yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi [Jabodetabek].

Untuk menghindari kejaran otoriter rezim orde baru pada saat itu sebagai alat berkumpulnya kawan-kawan buruh yang diorganisir pada tahun 1990-an di bentuklah komunitas TEATER BURUH INDONESIA atau yang lebih di kenal dengan TBI. TBI adalah organisasi yang bergerak dibidang kesenian dan kebudayaan yang menghimpun kreatifitas dan potensi kaum buruh dengan aktivitas mulai dari bermain musik, lagu-lagu perjuangan dan kehidupan buruh, puisi, melukis serta teater/drama dan juga pendidikan-pendidikan hukum perburuhan, diskusi-diskusi, penerbitan bulletin dan pementasan Teater serta hasil karya-karya kaum buruh. Pada tahap selanjutnya proses penyadaran dan pengorganisasian buruh di fokuskan pada pengorganisiran buruh-buruh di perusahaan-perusahaan sepatu terutama yang memproduksi merk/lisensi internasional, seperti: Nike, Adidas, Fuma, Filla, Reebok dll. Dari hasil kerja keras tersebut lahirlan kelompok-kelompok belajar buruh pabrik sepatu yang tersebar di wilayah Jabodetabek, selanjutnya kelompok-kelompok belajar buruh ini mempersatukan diri menjadi organisasi dan pada Tanggal 15 Desember 1996 di Cisarua Bogor Jawa Barat di bentuk serta di deklarasikan serikat buruh di sektor Sepatu dan Perlengkapannya [foot wear] yang di berinama “Perkumpulan Buruh Pabrik Sepatu” yang selanjutnya di singkat PERBUPAS.

PERBUPAS adalah serikat buruh yang menghimpun potensi buruh-buruh yang bekerja di pabrik sepatu, dengan tujuan guna memperkuat posisi tawar, perlindungan dan juga perjuangan peningkatan kesejahteraan buruh disektor sepatu dan perlengkapannya.

Proses pengorganisasian ini di ikuti oleh buruh/kelompok belajar buruh dipabrik Garmen dan Tekstil yang pada tanggal 17 Agustus 1997 di Bumi Perkemahan Jambore Cibubur, Jakarta Timur, mendeklarasikan serikat buruh yang diberi nama “Asosiasi Buruh Garmen dan Tekstil ” yang selanjutnya di singkat ABGTeks.

Pada saat itu juga sudah mulai berkembang kelompok diskusi di beberapa perusahaan di berbagai jenis Industri/lapangan pekerjaan.

Karena pada tahun-tahun itu serikat buruh/pekerja yang diakui dan diperbolehkan oleh pemerintah hanya SPSI, maka pada tahap awal Program Kerja dari kedua serikat buruh tersebut [PERBUPAS dan ABGTEKS] adalah di fokuskan pada penguatan buruh dan perluasan organisasi di kedua sektor tersebut melalui diskusi-siskusi, pendidikan dan pelatihan, advokasi dan juga penerbitan berbagai brosur tentang perburuhan secara tertutup dengan gerakan pengorganisasian di bawah tanah. Hal ini disebabkan pada masa itu rejim orde baru tidak memberikan tempat kepada buruh untuk membentuk serikat buruh lain diluar Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) sebagai satu-satunya serikat buruh yang diakui oleh negara dan berhak melakukan perundingan baik di pabrik maupun dalam sekala yang lebih luas.

GSBI di Bentuk dan di Deklarasikan
Reformasi yang puncaknya terjadi pada bulan Mei tahun 1998 yang mengakibatkan jatuhnya rejim otoriter Soeharto. Buah dari reformasi sedikit banyak memberikan angin segar bagi terbukanya kran demokrasi dan kebebasan bagi masyarakat dalam berbagai bidang, tidak terkecuali di bidang perburuhan terjadi juga perubahan terutama dibuka adanya peluang/kebebasan bagi buruh untuk membentuk, masuk dan mendirikan serikat buruh yang jadi pilihannya diluar dari SPSI, yaitu dengan Pemerintah RI melalui Menteri Tenagakerja mengeluarkan Permenaker No.05 tahun 1998 dan selanjutnya disusul dengan merativikasi Konvensi ILO 87 tahun 1948 melalui Keputusan Presiden RI No. 83 tahun 1998 tentang pengesahan Konvensi ILO No. 87 tahun 1948 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi.

Dengan dirativikasinya Konvensi ILO 87/1948 dan juga di keluarkannya Permenaker No. 05 tahun 1998 Artinya kran kebebasan berserikat bagi kaum buruh telah di buka seluas luasnya oleh Pemerintah, maka dengan menggunakan kesempatan tersebut serikat-serikat buruh yang tergabung dalam Perkumpulan Buruh Pabrik Sepatu (PERBUPAS) maupun Asosiasi Buruh Garmen dan Tekstil (ABGTeks) serta kelompok belajar buruh yang berada di berbagai perusahaan di wilayah Jabodetabek dengan segera menyikapi perubahan tersebut dengan mendeklarasikan serikat buruh di tingkat pabrik dan mencatatkannya di Departemen Tenagakerja untuk menjadi serikat buruh yang legal.

Seiring dengan perkembangan PERBUPAS dan ABGTeks lahir pula berjamuran dalam proses kerja-kerja pengorganisasian ini serikat-serikat buruh tingkat pabrik di berbagi jenis Industri, seperti Latek, Otomotif, Alumunium, Plastik, Kimia dllnya. Mengingat persatuan dan serikat buruh yang kuat yang memiliki basis yang mengakar, anggota yang terpimpin, terdidik dan terorganisir yakin yang akan mampu merubah kondisi perburuhan maka sangat mutlak dibutuhkan pada saat itu adalah harus lahir adanya serikat buruh baru ditingkat nasional yang independen dan sejati yang menghimpun seluruh kekuatan kaum buruh di Indonesia. Maka pada bulan November 1998 bertempat di Cimanggis Depok diadakan pertemuan antara SISBIKUM – PERBUPAS – ABGTeks dan pimpinan PTP serikat buruh tingkat perusahaan, dalam pertemuan tersebut semua pihak sepakat untuk membentuk federasi tingkat nasional.

Pada akhirnya berdasarkan pada prinsip kesadaran dan demi untuk mempersatukan kaum buruh, perjuangan serikat buruh-serikat buruh, mengkonsolidasikan organisasi serikat-serikat buruh, memimpin langkah-langkah perjuangan yang rapat dan kompak bersatu, serta memelihara setia kawan (solidaritas) dalam praktek dikalangan segenap kaum buruh dalam pusat perjuangan buruh yang sejati serta merujuk pada (1). Konvensi ILO No. 87, tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi, (2). Konvensi ILO No. 98, mengenai Kebebasan Berorganisasi dan Berunding Bersama serta (3). Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 05/MEN/1998, tentang Pendaftaran Serikat Pekerja, dan sebagai tindak lanjut dari pertemuan November 1998 maka pada tanggal 21 Pebuari 1999 GSBI di bentuk dan dirikan di Mekarsari Depok Jawa Barat oleh 17 (tujuh belas) Serikat Buruh Tingkat Perusahaan (PTP), 9 (sembilan) Kelompok Belajar Buruh yang tersebar di berbagai pabrik di Jabodetabek, oleh 2 (dua) Federasi Nasional Serikat Buruh (PERBUPAS DAN ABGTEKS) serta puluhan Individu aktivis dan tokoh buruh seperti bapak Arist Merdeka Sirait,  yang selanjutnya GSBI di deklarasikan ke tengah-tengah publik pada Tanggal 21 Maret 1999 di Jakarta di Lapangan Tenis Gelora Bung Karno Jakarta, yang dihadiri tidak kurang oleh 7.000 (tuju ribu) buruh dari berbagai sektor industri dari wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok. (-)

 

Sumber: infogsbi.org


Layanan Publik - Instansi