PERSETIA - Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia

Di Kutip Oleh : Redaksi PUBinfo

I. LATAR BELAKANG

Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia, disingkat PERSETIA didirikan sebagai hasil keputusan Konperensi Pendidikan Teologi yang diselenggarakan Komisi Pendidikan Teologi Dewan Gereja di Indonesia (DGI, sekarang PGI).
Konperensi tersebut menghimpun Sekolah-sekolah Teologi dari berbagai gereja anggota DGI, bertempat di Sukabumi, memutuskan untuk membentuk perhimpunan ini tanggal 27 Oktober 1963. Peristiwa ini sebenarnya merupakan salah satu upaya untuk mengkonsolidasikan lembaga-lembaga pendidikan teologi di Indonesia yang sedang mencari identitasnya yang baru di tengah kemandirian gereja-gereja pasca Perang Dunia II.

Pada Sidang Lengkap I Sidang Raya pembentukan DGI) tahun 1950, telah dipercakapkan usul Zendingsconsulaat (berdiri di Indonesia 1906 untuk mengkoordinasi kegiatan Zending dan gereja-gereja hasil zending serta membangun hubungan dengan gereja Negara GPI), agar DGI mengambil alih pembinaan terhadap sekolah-sekolah Teologi di Indonesia. Hasilnya, sidang tersebut membentuk Komisi Pendidikan Teologi di lingkungan DGI, yang bertugas antara lain untuk mengkoordinir semua sekolah Teologi di Indonesia dan mempelajari permasalahan yang dihadapi sekolah-sekolah Teologi(J.S. Aritonang, Peny. 50 Tahun PGI, 2000, hal 224-225). Komisi ini antara lain membentuk Lembaga Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia (LPThI), yaitu lembaga yang mengayomi kelangsungan STT Jakarta sebagai perguruan Tinggi Teologi (1954) dan menyelenggarakan konperensi Pendidikan Teologi bulan Oktober 1963, yang menetapkan berdirinya PERSETIA. Perhimpunan ini sejak berdirinya sampai tahun 1969 dipimpin oleh Komisi Pendidikan Teologi DGI. Pada tahun 1968 diselenggarakan Konperensi Sekolah Teologi se Indonesia di Sukabumi oleh DGI yang antara lain merumuskan bahwa pendidikan Teologi yang dimaksud bukan pendidikan formal saja tetapi juga non formal yang diselenggarakan gereja-gereja.(Setia No.3: 1971 hal.123 dst). Hal ini turut mempengaruhi keanggotaan di PERSETIA.

Pada 1969 pengurus PERSETIA terbentuk(sebagai tindak lanjut hasil Konsultasi Pendidikan Teologi DGI di Sukabumi 1967 dan 1968), dan diketuai oleh Dr. F. Ukur dengan 11 Sekolah Anggota. Sejak tahun 1950 sampai 1970-an Sekolah-sekolah Teologi menata diri untuk menjadi Lembaga Pendidikan Tinggi dan muncul kebutuhan untuk membekali diri dengan kurikulum yang memadai. Karena itu DGI dan PERSETIA melaksanakan Konsultasi Kurikulum I di Sukabumi tahun 1973 yang kemudian dilanjutkan dengan konsultasi berikutnya sampai tahun 1983 (di Tomohon) yang menetapkan Kurikulum Standar Minimal PERSETIA.
Sementara itu sejak 1970-an dan selanjutnya muncul berbagai Sekolah Teologi yang dibentuk oleh gereja-gereja baru maupun Yayasan Kristen dan hal ini merupakan tantangan baru bagi PERSETIA untuk meningkatkan perannya sebagaimana yang diamanatkan oleh Konperensi/ Konsultasi Pendidikan Teologi 1968.

Karena itu tugas utama PERSETIA sejak berdirinya sesungguhnya meliputi 3 (tiga) kegiatan utama yaitu:

Pertama:

Menjalin hubungan dengan semua Sekolah Teologi di Indonesia untuk menggumuli berbagai permasalahan dalam bidang pendidikan Teologi serta membangun relasi kemitraan dan persekutuan kerja dengan lembaga-lembaga oikoumene secara nasional, regional dan internasional.

Kedua:

Memajukan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia, agar memenuhi standard sebagai lembaga pendidikan yang mengembangkan teologi sebagai ilmu. Untuk itu hubungan dengan pemerintah (dalam hal ini Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) dibangun secara kreatif dan positif sehingga keberadaan Sekolah-sekolah Teologi mendapat pengakuan Negara.

Ketiga:

Mengembangkan pemikiran teologi dalam hubungan dengan pergumulan gereja dan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain PERSETIA diharapkan peranannya membantu dan mendorong Gereja-gereja untuk berteologi di dalam konteksnya masing-masing. Dengan begitu sekolah Teologia tidak hanya “memproduksi” tenaga-tenaga pelayan (semacam Sekolah Kedinasan) tetapi juga menjadi “seminarium ecclesiae”’ pembibitan gereja yang bertaut erat dengan pengembangan pemikiran teologi yang kontekstual.(Wismoady Wahono, Peny: Tabah Melangkah, 1984, h. 391-392).

Dalam hubungan ini Visi dan Misi PERSETIA, dapat dirumuskan sebagai berikut :

Visi:

Menjadi persekutuan yang mempersatukan semua sekolah Teologi di Indonesia yang didukung oleh gereja-gereja di Indonesia untuk bersama-sama memajukan pendidikan teologi dan mengembangkan pemikiran-pemikiran teologi yang kontekstual.

Misi:

  1. Membangun jejaring (networking) dengan semua lembaga pendidikan teologi di Indonesia dan menjalin hubungan yang kreatif dengan lembaga-lembaga ekumenis secara nasional, regional dan internasional.
  2. Memajukan Sekolah Teologi di Indonesia agar memenuhi standard sebagai lembaga pendidikan yang mengembangkan teologi sebagai ilmu.
  3. Mengembangkan pemikiran teologi yang kontekstual dengan jalan mendorong sekolah-sekolah anggota menjadi “Seminarium ecclesiae”

II. POKOK-POKOK PROGRAM KERJA

1. Berdasarkan latar belakang di atas, pokok program yang dilaksanakan PERSETIA meliputi:Bidang Oikoumene

  1. Studi dan penelitian tentang tumbuhnya berbagai lembaga pendidikan teologi di Indonesia dan manfaatnya bagi gereja dan masyarakat.
  2. Mendorong tanggung jawab sekolah-sekolah Anggota untuk berinteraksi satu dengan yang lain di wilayahnya masing-masing dalam rangka saling membina, khusus dengan calon-calon anggota baru.
  3. Membina hubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan Kristiani dalam rangka menggumuli masalah-masalah pendidikan di Indonesia (badan-badan seperti: MPK, BKPTKI, Akademi Leimena, PGI dan sebagainya).
  4. Menjalin hubungan dengan program-program yang aktual dengan asosiasi pendidikan Teologi yang lainnya, seperti: PASTI, ATESEA, ATA, AFTA dan sebagainya di dalam dan di luar negeri.
  5. Meningkatkan hubungan dengan pemerintah antara lain : Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Ditjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  6. Membangun kerjasama dengan para periset lintas agama dan negara dan sumbangannya bagi gereja dan negara.

2. Bidang Pendidikan Teologi

  1. Penelitian dan studi untuk pengembangan kurikulum Pendidikan Teologi di Indonesia.
  2. Sosialisasi dan bimbingan terhadap sekolah-sekolah Anggota untuk memenuhi standard yang ditentukan oleh BAN-PT.
  3. Pendidikan Dosen (Faculty Development) S2 dan S3 dengan bantuan beasiswa atau rekomendasi untuk memenuhi kebutuhan sekolah-sekolah anggota yang belum memiliki program FD.
  4. Pertukaran Dosen (Faculty Exchange) antar sekolah-sekolah anggota di dalam dan luar negeri untuk mengajar bidang-bidang studi tertentu yang dibutuhkan.
  5. Studi Institut (S1) sesuai bidang-bidang studi Teologi secara bergiliran yang dihadiri Dosen-dosen bidang tersebut untuk membahas pokok-pokok yang berhubungan dengan konteks.
  6. Kuliah Alih Tahun (KAT) yang diikuti mahasiswa Pasca Sarjana S3 bidang studi tertentu yang dilaksanakan dalam kerjasama dengan lembaga-lembaga Perguruan Tinggi di dalam dan luar negeri.
  7. Pertukaran Mahasiswa (Student Exchange), untuk belajar mata kuliah tertentu di sekolah anggota yang lain.
  8. Studi Perpustakaan bagi mahasiswa pasca sarjana dalam jangka waktu tertentu untuk penulisan tesis dan desertasi di sekolah-sekolah anggota yang lain yang lengkap perpustakaannya.
  9. Membangun jejaring antara perpustakaan Sekolah-sekolah Teologi antara lain dengan melakukan pelatihan-pelatihan pustakawan.

3. Bidang Pengembangan Teologi

  1. Konsultasi dan seminar mahasiswa dengan tema-tema yang relevan untuk mendorong mahasiswa berteologi dalam konteks.
  2. Konsultasi dan Lokakarya Kurikulum untuk meninjau dan memperbaharui kurikulum.
  3. Konsultasi Teologi dengan tema-tema yang aktual agar gereja-gereja di Indonesia tidak mengembangkan “second-hand theology” atau “pot-plant theology”.
  4. Mengembangkan program “women’s Concern” antara lain dengan memberdayakan peran perempuan yang berpendidikan teologi.
  5. Penulisan dan penerbitan buku, hasil-hasil seminar, konsultasi karya ilmiah, tesis, disertasi dan jurnal SETIA.
  6. Lomba karya ilmiah di kalangan mahasiswa dan dosen sebagai satu upaya berteologi.

4. Bidang Umum

  1. Penerbitan Berita PERSETIA, untuk mengkomunikasikan berbagai kegiatan PERSETIA dan sekolah-sekolah anggota ke berbagai pihak.
  2. Memberdayakan Sumber Daya Keuangan yang terdiri dari :
    a. Iuran anggota
    b. Usaha Dana di dalam negeri
    c. Partisipasi mitra dan sahabat-sahabat PERSETIA.
  3. Pengembangan Personalia:
    a. Direktur Pelaksana yang secara periodik direkrut dari sekolah-sekolah anggota atau yang dilatih Pengurus
    b. Administrasi Umum dan IT
    c. Administrasi Keuangan
    d. Tenaga Pelaksana Teknis
  4. Penataan Kantor PERSETIA yang diatur melalui kerjasama dengan STT Jakarta
  5. Rapat Pengurus tahunan untuk menetapkan proposal, menyusun anggaran dan mengevaluasi program kerja
  6. Rapat Anggota yang menerima laporan Pengurus, mengevaluasi kegiatan dan penyusunan program 4 tahun ke depan dengan kepemimpinan yang baru

 

Sumber: persetia.com


Layanan - PERSETIA - Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia

Layanan Publik - Instansi