PFN - Produksi Film Negara

Di Kutip Oleh : Redaksi PUBinfo

Sejarah PFN

http://pfn.co.id/id/wp-content/uploads/2014/01/sejarah-pfn-1.jpg
Perkembangan perfilman di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1926 ketika seorang produser film bernama David membuat film bisu berjudul Lely Van Java di Bandung. Kemudian disusul oleh produser Kruger Co tahun 1927/1928 membuat film berjudul Eulis Atjih dan selanjutnya diproduksi film berjudul Lutung Kasarung oleh produser film Carli. Film ini sangat terkenal dan merupakan tonggak awal dari dunia perfilman di Indonesia. Bersamaan dengan itu dibuat juga film Tjunt Jonat oleh Wong Brothers dan Pareh oleh South Pacifik Film Co, pada tahun 1929/1930. Pada tahun 1936, di jalan Bidara Cina 123-125-127 (Sekarang Jl. Otto Iskandar 125-127 / lokasi PFN), seorang Belanda bernama Albert Balink dibantu oleh Wong Brothers mendirikan sebuah studio film bernama ALGEMENE NEDERLANDS INDISCHE FILM (ANIF) yang bergerak membuat film film berita (newsreels) dan film cerita (feature film).

Di studio ANIF ini film “BICARA” (TALKING PICTURE) yang pertama dibuat di Indonesia oleh seorang produser Belanda bernama Manus Fraken dan Albert Balink. Film pertama yang diproduksi berjudul “Terang Boelan” yang dibintangi oleh R.Muctar dan Rukiah , dan naskahnya  dibuat oleh penulis Saerun.

Pada tahun 1940 ANIF jatuh bangkrut dan dijual kepada NV. Multi Film Harlem Holland.  Sejak itu NV. Multi Film Harlem hanya membuat film film berita dan Dokumenter. Pada tahun 1941 pecah perang Asia Timur Raya dan awal tahun 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Dengan menyerahnya Hindia Belanda kepada tentara  Jepang, maka seluruh kekayaan yang berada dibawah kekuasaan Hindia  Belanda diambil oleh tentara  Jepang termasuk NV Multi Film yang kemudian namanya diganti dengan Nippon Eiga Sha dibawah pengawasan Sandenbu (Barisan Propaganda) bala tentara Jepang yang dipimpin oleh Kol. Matshushida dan seorang sipil bernama S.Ohya. Nippon Eiga Sha sendiri dikepalai dengan oleh seorang Jepang yang bernama Ishimoto dan wakilnya seorang Indonesia yang bernama R.M. Soetarto. Nippon Eiga Sha dibawah pimpinan Ishimoto memproduksi  film berita , Film Dokumenter , Film Cerita , dan membuat Recording Film-Film Jepang dalam Bahasa Indonesia. Film Nippon Eiga Sha diedarkan oleh kantor Peredaran Eiga Haikyu Sha .

Pada tahun 1945 karyawan film Indonesia yang bergabung dalam Berita Film Indonesia (BFI) yang dipimpin oleh R.M. Soetarto melakukan liputan peristiwa- peristiwa sejarah, termasuk perang kemerdekaan RI, secara sembunyi sembunyi walaupun berada dibawah ancaman dan pengawasan tentara Jepang dan Nippon Eiga Sha. Peristiwa yang sangat bersejarah yang dapat diabadikan oleh BFI antara lain rapat raksasa dilapangan Ikada pada tanggal 19 September  1945. Rapat ini merupakan rapat besar pertama yang dilakukan oleh pemerintahaan RI setelah proklamasi Kemerdekaan.

Pada tanggal 6 Oktober 1945 para karyawan film yang tergabung dalam BFI dibawah pimpinan R.M Soetarto melakukan tindakan cepat dan tegas mengambil alih Nippon Eiga Sha. Penyerahan Nippon Eiga Sha secara resmi diwakili oleh Ishimotto, sedangkan BFI  diwaliki oleh R.M Soetarto serta disaksikan oleh Menteri Penerangan RI Amir Syarifudin . Peristiwa ini sangat penting dan bersejarah bagi dunia perfilman Indonesia umumnya dan PERUM PFN khususnya dengan pemindahan tersebut maka lahirlah secara resmi BFI dibawah kementrian penerangan RI  yang merupakan cikal bakal PERUM PFN . Setelah lahirnya BFI secara resmi, maka peran BFI semakin nyata.  Pada tanggal 10 November 1945 melakukan liputan sejarah penting seperti peristiwa Arek Arek Surabaya yang bertempur melawan sejarah sekutu dan angkatan udara Inggris yang kini disebut Hari Pahlawan .

Berkaitan dengan aksi teror tentara  NICA (Netherland Indies Civil Admistration ) di wilayah Indonesia maka pada tanggal 19 November 1945 gedung BFI di jalan Bidara Cina diduduki oleh tentara NICA, sehingga peralatan , bahan baku , obat-obatan , serta labotarium terpaksa dipindahkan ke rumah sakit CBZ (RSCM sekarang) , walaupun tindakan itu sangat berbahaya bagi BFI. Demi keamanan akhirnya dari CBZ peralatan obat-obatan dipindahkan lagi ke rumah R.M. Soetarto di river laan (Jalan Cilosari) .

Atas bantuan Prof Dr. Asikin , Dr Bahder Djhohan , Dr Roesmali , Dr Halim dan kawan - kawan , di lingkungan Rumah Sakit Umum dari Universitas Indonesia, BFI mendirikan labotarium untuk mencuci film hasil shooting film .

Untuk mengantisipasi peristiwa sejarah yang perlu diliput, maka BFI dengan keterbatasan tenaga yang dimiliki menempatkan petugasnya di daerah daerah pertempuran Jawa Barat , Jawa Timur , Jawa Tengah , khususnya Surabaya dan Malang. Banyak peristiwa yang diliput saat itu dan kini dapat dijadikan bukti sejarah dan banyak dimanfaatkan oleh para pembuat film .

Pada bulan Desember 1945 tentara NICA semakin mengganas di Jakarta , untuk itu perjuangan BFI dilanjutkan di Surakarta dan Yogyakarta dengan melakukan pemindahan peralatan film. Karena kondisi saat itu membahayakan, maka perpindahan tersebut dilakukan secara bergelombang .

Gelombang I : Memindahkan mesin tulis , proyektor , lampu lampu , kabel , melalui kereta api dan dikawal oleh ST. NAZAR dan ISMED OS . Gelombang II : Dengan menggunakan kereta api istimewa , bersama sama Presiden Soekarno ke Yogyakarta. Pada saat ini R.M Soetarto , Wagimin dan Bugel Supardi membawa peralatan kamera , mesin cuci film dan cetak film . Gelombang III : Membawa peralatan teknik lainnya melalui stasiun Gang Kenari dan Rawa Bangke menuju Surakarta dan Tawamangu oleh SDR. MNAP , Sabeni , Biril dan Sarmad . Studi BFI di Surakarta terletak di jalan Purwosari 225 , (sekarang jalan Slamet Riyadi) , di Yogyakarta BFI bertempat di Loji Kecil Setelah pemerintah RI meninggalkan Jakarta dan hijrah ke Yogyakarta, studio dan labotarium serta kantor BFI yang telah diduduki oleh tentara Belanda (NICA) dijadikan Regeerings Film Bedrijft yang membuat film-film berita , film dokumenter dan film cerita yang saat itu dikerjakan oleh South Pacific Film Co . Walaupun kondisi saat itu sangat sulit dan berbahaya, namun peralatan sederhana BFI  sepanjang tahun 1946 sampai tahun 1949 berhasil meliput peristiwa sejarah sbb :

  • Konferensi Komite Nasional Pusat di Malang  pada tahun 1946 .
  • Pekan Olah Raga Nasional Pertama di Solo pada tahun 1948 .
  • Perundingan - perundingan dengan  UNCI (United Nation Commusion For Indonesia ) Komisi Perserikatan Bangsa bangsa untuk Indonesia di Kaliurang Yogyakarta .
  • Perjanjian Linggar Jati (Cirebon) dan Jakarta .
  • Perjanjian Renville ( diatas kapal perang Renville di perairan Tanjung Priuk) .
  • Pertempuran dalam clash ke 1 dan ke II (tahun 1947 dan 1948) .
  • Peristiwa pemberontakan PKI (dipimpin Muso) ( tahun 1948).
  • Penahanan Presiden dan Wakil Presiden beserta para pimpinan Indonesia lainnya di Pulau Bangka Belanda .
  • Kembalinya pada tawanan Indonesia yang ditawan Belanda dari Pulau Bangka
  • Kembalinya panglima besar Jenderal Sudirman dan para Gerilyawan ke Yogyakarta .
  • Inter Indonesia Conference antara Republic Indonesia dan BFO (Bijzonder Federal Overleg di Yogyakarta dan Jakarta tahun 1949)
  • Konferensi Meja Bundar ( Runde Tafel Conferentie) di Den Haag Nederland 1949.
  • Pengakuan kedaulatan Republic Indonesia di Istana Den Dam Amsterdam , tanggal 27 Desember 1949.

Dari dokumen dokumen tersebut disusun sebuah film dokumenter bersejarah dengan judul Fights For Freedom dalam tahun 1951 dan film 10 November tentang pertempuran sengit antara pejuang Indonesia melawan penjajah Inggris dan Belanda . Salah satu kru BFI yang bertugas pada saat pembuatan film tersebut adalah Sofyan Tanjung

Setelah pengakuan Kedaulatan RI pada tahun 1950, maka Regeerings Film Bedrijf diserahkan  oleh Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) yang kemudian dinamakan Perusahaan Pilm Negara (PPN) dibawah Kementrian Penerangan RI dan sebagai pimpinannya ditunjuklah Suska. Pada akhir tahun 1950, setelah R.M. Soetarto kembali dari tugasnya selama Konferensi Meja Bundar di Negeri Belanda dan tugas belajar dalam bidang perfilman di berbagai Negara Eropa , Perusahaan Pilem Negara dipimpin oleh  Haryoto sebagai Direktur, sedangkan R.M. Soetarto sebagai kepala produksi umum yang meliputi kegiatan produksi film cerita, dokumenter dan berita news reel. Mulai saat itu Perusahaan Pilm Negara berganti nama menjadi Perusahaan Film Negara dengan menitikberatkan produksinya pada film berita (newsreel) yang diberi nama film Gelora Indonesia dan ditayangkan sebelum diputar film utama. Hal ini sangat mendukung program pemerintah dalam informasikan peristiwa penting ke pelosok tanah air dan luar negeri.

Menyadari tugas oleh PFN akan bertambah luas karena disamping melayani kepentingan Kementrian Penerangan juga melayani umum secara komersial , maka pada tahun 1957 PFN dipecah menjadi empat badan masing masing yaitu Central Film Laboratory (CPL) , Dinas Film Penerangan , Dinas Film Cerita dan Kantor Peredaran. Pada tahun 1962 setelah mengudaranya TVRI,  Film Berita Gelora Indonesia semakin terdesak karena masyarakat semakin maju dan banyak memilik pesawat Televisi sehingga cenderung menyaksikan berit- berita dari TVRI dan pada akhirnya diputuskan PFN memproduksi film dokumenter Gelora Pembangunan yang menitikberatkan unsur Pendidikan dan Kebudayaan hasil Pembangunan yang disebarluaskan ke seluruh pelosok dalam dan luar negeri

Disamping itu PFN juga melalukan pengembangan dalam jasa produksi film seperti prosesing , editing , recording yang sudah bersifat komersial. Setelah berjalan sekian lama berdasarkan Surat Keputusan Mentri Keuangan NO 55 B/MENPEN/1975 tanggal 16 Agustus 1975, PFN berubah  lagi menjadi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) yang dalam pengelolaannya tunduk pada undang undang perbendaharaan Negara (ICW).

Sejak tahun 1978 PFN mulai melakukan peningkatan produksi dengan membuat film cerita pendek yang bersifat Pendidikan dan Kebudayaan dengan mengangkat cerita daerah.  Disamping itu, untuk kalangan remaja PFN juga memproduksi film cerita panjang yang bertemakan perjuangan seperti film “Penghianatan G30 S PKI” , film “Kereta Api Terakhir”, “Serangan Fajar, ”Jakarta 66”. Sedangkan untuk film bertemakan pendidikan PFN memproduksi film “Keluarga Rakhmat” yang ditayangkan melalui media televisi . Untuk anak mendunia anak PFN memproduksi film boneka “Si Unyil” , “ Si Huma” ,dan  “Si Titik” .

Untuk menunjang kegiatan produksi  film, PFN melakukan peningkatan di bidang sarana dan prasarana berupa pembangunan gedung kantor dan labotarium , peralatan seperti kamera , lampu, suara, editing, studio dan lain – lain.

Agar PFN dapat dikelola secara profesional dengan prinsip-prinsip perusahaan yang dapat keuntungan bagi Negara, serta mampu mandiri, maka sejak tanggal 7 Mei 1988 dengan Peraturan Pemerintah NO.5/1988 statusnya menjadi berubah PERUM PRODUKSI FILM NEGARA, disingkat PERUM P.F.N. Perubahan status ini membawa dampak yang cukup luas bagi perkembangannya, karena PFN selain dituntut agar mampu untuk mandiri, jugadiharapkan dapat memberikan manfaat bagi Pemerintah. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka sejak perubahan statusnya menjadi Badan Usaha Milik Negara secara terus menerus dilakukan pembenahan di segala bidang, baik fasilitas peralatan, gedung, sumber daya manusia , manajemen dan organisasi .

Pada masa itu, di bidang peralatan PFN melakukan perbaikan dan penambahan baik peralatan kamera dengan BL 535 nya , peralatan suara dengan rekaman suara stereo yang merupakan pertama dan  satu satunya di Indonesia, labotarium, peralatan sine elektronik yang cukup baik lengkap kamera , editing , maupun suara untuk mendukung kemajuan teknologi dengan menggunakan video .

Di bidang produksi dilakukan kerja sama dengan  berbagai pihak lain pemerintah maupun swasta , disamping  selalu berperan dalam peliputan acara acara besar kenegaraan baik KTT NON BLOK , APEC , perjalanan haji , 50 tahun kemerdekaan, proses pembangunan pemerintah baik di daerah maupun di kota besar.

 

Sumber: pfn.co.id


Layanan - PFN - Produksi Film Negara

Layanan Publik - Instansi