WALHI - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

Di Kutip Oleh : Redaksi PUBinfo

Tentang WALHI

Organisasi lingkungan hidup yang independen, non-profit dan terbesar di Indonesia. Kami kini hadir di 28 propinsi dengan total 479 organisasi anggota dan 156 anggota individu (terhitung Desember 2011) yang secara aktif berkampanye di tingkat lokal, nasional dan internasional. Di tingkat internasional, WALHI berkampanye melalui jaringan Friends of the Earth Internasional yang beranggotakan 71 organisasi akar rumput di 70 negara, 15 organisasi afiliasi, dan lebih dari 2 juta anggota individu dan pendukung di seluruh dunia.

Sejarah

Sebagai organisasi lingkungan tertua di Indonesia, WALHI mempunyai sejarah yang cukup panjang. Berikut secara ringkas sejarah perjalanan panjang WALHI.

Berawal dari Lantai Tiga Belas

Setelah dua bulan diangkat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim  berdialog dengan beberapa kawannya, seperti Bedjo Rahardjo, Erna Witoelar, Ir. Rio  Rahwartono (LIPI), dan Tjokropranolo (Gubernur DKI), untuk membicarakan agar lingkungan menjadi sebuah gerakan dalam masyarakat. “Saya pengen bola salju lingkungan hidup bisa cepat membesar,” kata Emil waktu itu (wawancara – pribadi). Bukan hanya itu tujuannya, tetapi Emil Salim merasa bahwa ia harus belajar tentang lingkungan, karena ia melihat bahwa lingkungan ini adalah sesuatu yang baru dan belum populer di Indonesia. Ia ingin terjun ke tengah-tengah masyarakat agar persoalan-persoalan lingkungan di masyarakat bisa diketahui dan dicarikan solusi oleh masyarakat. Untuk itulah, ia harus mencari jalan keluar agar bola salju yang bernama ‘lingkungan’ itu menggelinding lebih besar. Dalam diskusi-diskusi yang berlangsung secara informal dengan kawan-kawannya, bagi Emil Salim tidak ada pilihan lain, kecuali minta bantuan kelompok-kelompok NGO dan pecinta alam. Harapan Emil adalah agar kelompok NGO dan pecinta alam dapat membantu menyelesaikan pelbagai persoalan lingkungan, karena kedua kelompok ini dianggap mempunyai kedekatan dengan masyarakat. Sehingga pemerintah melalui lembaga ini bisa menyampaikan programnya kepada masyarakat. Di sisi lain,  masyarakat yang tidak bisa menyampaikan permohonannya kepada pemerintah bisa disampaikan melalui NGO. Keinginan Emil Salim yang begitu besar membuat haru seorang kawannya yang saat itu menjadi Gubernur DKI, yaitu Tjokropranolo. Hingga suatu siang Tjokropranolo menawarkan sebuah ruangan untuk melakukan pertemuan kelompok NGO se-Indonesia.  Gayung bersambut, tanpa pikir panjang, Emil Salim langsung menerima tawaran Tjokropranolo untuk melakukan pertemuan NGO seluruh Indonesia. Pertemuan  tersebut dilakukan di Lantai 13, Balaikota (Kantor Gubernur DKI Jakarta),  Jalan Merdeka Selatan. Tidak dinyana sama sekali, pertemuan mendadak tersebut dihadiri sekitar 350 lembaga yang terdiri dari lembaga profesi, hobi, lingkungan, pecinta alam, agama, riset, kampus, jurnalis, dan lain sebagainya. Disitulah Emil Salim mengungkapkan semua keinginannya bahwa antara pemerintah dan NGO harus berjalan bersama untuk mewujudkan lingkungan yang baik, juga diungkapkan bahwa masyarakat harus membantu program-program pemerintah dalam bidang lingkungan. Dalam pertemuan tersebut, Abdul Gafur (saat itu Menteri Pemuda dan Olahraga), datang menjenguk. Kabarnya, ia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan kelompok NGO dan tanggapan kelompok ini terhadap pemerintah. Agar pertemuan tersebut tidak sia-sia, mereka harus mencari bagaimana memelihara komitmen bersama sekaligus mencari cara berkomunikasi yang efektif di antara mereka. Menjelang acara usai, muncullah kesepakatan untuk memilih sepuluh NGO yang  akan membantu program-program pemerintah dalam bidang lingkungan hidup. Ke-sepuluh organisasi tersebut kemudian disebut dengan Kelompok Sepuluh. Awalnya, kelompok ini akan dinamakan dengan Sekretariat Bersama Kelompok Sepuluh. Namun, George Adji Tjondro menolak,  dengan alasan kalau sekretariat bersama, seperti underbownya Golkar. Akhirnya, Goerge mengusulkan nama Kelompok Sepuluh. Dan dari lantai 13  itulah, lahir Kelompok 10 yang menjadi cikal bakal kelahiran WALHI.

Nilai-Nilai WALHI

Untuk melawan segala bentuk penindasan atas rakyat jelata dan sumber-sumber kehidupannya tersebut, WALHI setia pada nilai-nilai perjuangan WALHI yang disenaraikan sebagai berikut:

  1. Demokrasi : Seluruh rakyat harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan apa pun yang akan berdampak bagi keberlanjutan kehidupan rakyat.
  2. Keadilan antar Generasi : Semua generasi baik sekarang maupun mendatang berhak atas lingkungan yang berkualitas dan sehat
  3. Keadilan gender : Semua orang berhak memperoleh kehidupan dan lingkungan hidup yang layak tanpa membedakan jenis kelamin, agama dan status sosial.
  4. Penghormatan Terhadap Mahluk Hidup: Semua mahluk hidup baik manusia maupun non manusia memiliki hak dihormati dan dihargai.
  5. Persamaan Hak Masyarakat Adat : Masyarakat adat di seluruh pelosok nusantara berhak menentukan nasibnya sendiri untuk berkembang sesuai kebudayaannya.
  6. Solidaritas sosial :Semua orang memilik hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya yang sama
  7. Anti Kekerasan : Negara dilarang melakukan kekerasan fisik dan non fisik kepada seluruh rakyat.
  8. Keterbukaan : Seluruh rakyat berhak atas semua informasi berkenaan dengan kebijakan dan program yang akan mempengaruhi kehidupannya.
  9. Keswadayaan :Semua pihak diharapkan mendukung keswadayaaan politik dan ekonomi masyarakat.
  10. Profesionalisme : Semua pihak hendaknya bekerja secara profesional, sepenuh hati, efektif, sistematik dan tetap mengembangkan semangat kolektivitas.

Dalam mengejawantahkan nilai-nilai di muka, WALHI menegaskan posisinya untuk mewujudkan hal-hal berikut:

Pemerintahan Rakyat Demokratik

Sistem parlemen dan sistem pemilu saat ini ternyata gagal mendudukkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas dan berpihak pada kepentingan rakyat jelata. Parlemen tak lagi punya kuasa dan telah ditelikung agendanya oleh kelompok pemodal. Sistem demokrasi kerakyatan menolak segala demokrasi dengan sistem perwakilan tetapi mendorong semua rakyat aktif terlibat dalam proses politik. Upaya menuju pemerintah rakyat demokratik dilakukan dengan menggunakan kekuatan rakyat dari arus paling bawah.

Masyarakat Berkeadilan

Sistem masyarakat kapitalis menciptakan kehidupan yang tidak adil dan korup serta individualistik.  Sistem masyarakat seperti ini membuat rakyat semakin tersingkir dan terasingkan.  Masyarakat berkeadilan adalah tatanan masyarakat yang bertumpu pada nilai-nilai komunitas yang menghilangkan perbedaan gender, suku-bangsa dan agama.  Nilai-nilai komunitas mendudukan kembali martabat manusia sebagai mahluk sosial bukan kaki tangan dari mesin-mesin kapitalisme.

Kehidupan Berkelanjutan

Sistem produksi kapitalistik pada akhirnya tidak menjamin keberlanjutan kehidupan rakyat.  Pengerukan sumberdaya alam secara besar-besaran  telah menghancurkan sistem produksi  dan reproduksi sosial rakyat.  Kehidupan berkelanjutan terjadi bila sistem produksi berbasis pada kebutuhan rakyat bukan pada kerakusan beberapa gelintir orang.  Perusahaan-perusahaan tidak bisa lagi hanya menguntungkan segelintir pemiliknya tetapi dikontrol dan dikendalikan oleh orang-orang yang bekerja pada perusahaan itu. Pasar tidak lagi mendikte apa harus diproduksi, akan tetapi rakyat kebanyakanlah yang merencanakan dan menentukan apa yang akan diproduksi.

Hak atas sumber-sumber kehidupan

Sistem kapitalistik memberikan hak-hak istimewa kekayaan alam pada gelintir pengusaha dan orang-orang berkuasa. Penguasaan kekayaan alam oleh negara dan perusahaan telah membawa bencana.  Untuk itu, negara harus menjamin sepenuhnya perlindungan, penghormatan dan pemenuhan hak-hak rakyat atas sumber-sumber agraria (tanah, air, udara dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya) dan keadilan lingkungan hidup.

WALHI Bergerak

WALHI menyerukan  kepada seluruh rakyat di kota-kota dan pelosok-pelosok nusantara agar segera melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

Tetapkan sikap anti dan Sebarkan kata-kata perlawanan terhadap globalisasi.  Perubahan politik hanya terjadi jika perubahan sikap pada orang-orang awam.  Berbicaralah tentang globalisasi kepada kawan dan kerabat Anda. Anda tak perlu memberikan jawaban, melainkan sampaikan pertanyaan tentang globalisasi dan lingkungan hidup.

Lakukanlah kampanye menentang segala bentuk penindasan. Dukung dan lakukanlah kampanye dan program-program organisasi yang menentang globalisasi yang berdampak buruk pada kehidupan rakyat.  Jantung persoalan lingkungan hidup adalah penindasan pada hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya warga negara.

Ubahlah gaya hidup Anda.  Lakukan cara-cara hidup yang bersahabat dengan orang-orang tertindas dan lingkungan hidup seperti bersepeda, hemat energi, menggunakan barang daur ulang, dan lain-lain.

Gunakan kekuatan Anda sebagai konsumen. Pilihlah produk-produk yang bertanggung jawab pada lingkungan hidup.  Pakailah produk organik, beli barang-barang yang diperdagangkan secara adil.  Hindari produk-produk multinasional. Dukung produk-produk lokal. Belilah produk petani setempat.

Gunakan kekuatan Anda sebagai buruh.  Jangan bekerja pada perusahaan-perusahaan yang ditengarai menghancurkan lingkungan hidup dan tidak menghormati hak-hak buruh. Dorong perusahaan tempat Anda bekerja untuk lebih peduli pada lingkungan hidup dan hak-hak rakyat.

Lakukan lobi kepada anggota parlemen di wilayah Anda.  Sampaikan gagasan anti-globalisasi dan penyelamatan lingkungan hidup kepada wakil-wakil Anda di parlemen di wilayah Anda.  Selain bertatap muka, Anda bisa menggunakan surat dan berbagai media untuk menekan anggota parlemen tidak dijebak  untuk mendukung agenda-agenda globalisasi.

Lakukan investasi dengan etika.  Investasikan uang Anda pada lembaga-lembaga keuangan yang menghormati lingkungan hidup dan hak-hak rakyat. Kembalikan posisi uang menjadi alat tukar yang adil dan fasilitator pertukaran sumberdaya rakyat.

Periksalah perilaku lembaga-lembaga keuangan tempat Anda menyimpan uang. Hindari lembaga-lembaga keuangan yang jelas-jelas mendukung perusahaan yang mencemari lingkungan hidup dan menghancurkan sumberdaya alam.

Bergabunglah dengan organisasi-organisasi  perlawanan rakyat dan anti globalisasi.  Tentu amat sulit bertindak sendiri sesuai dengan kemauan pribadi. Bergabunglah dengan organisasi-organisasi yang membela hak-hak Anda dan isu-isu anti globalisasi.  Kembangkan isu-isu sesuai dengan latar belakang Anda. Jika Anda guru, gunakan kekuatan Anda untuk mendidik isu-isu penting ini.  Jika Anda perempuan, kaitkan isu globalisasi dengan penderitaan kaum perempuan akibat globalisasi.

Memperluas Gerakan Lingkungan Hidup

Organisasi WALHI memperluas gerakan lingkungan hidup melalui  tindakan-tindakan kongkrit sebagai berikut :

WALHI akan mengorganisir diri sampai pada tingkat kota dan kampung dengan cara melakukan banyak pertemuan warga dan pertemuan rakyat secara rutin.  Pertemuan-pertemuan ini bersifat praktis untuk menfasilitasi para aktivis yang ingin mengorganisir dan meradikalisasi gerakan lingkungan di wilayahnya, tempat kerja dan kampus-kampus serta sekolah-sekolah.

WALHI akan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan publik di kota dan kampung untuk mendidik publik agar peduli pada masalah globalisasi dan lingkungan hidup yang bersifat struktural.

WALHI akan menyelenggarakan sanggar kerja bagi berbagai kalangan untuk memperkenalkan relasi antara dampak globalisasi dan gerakan lingkungan hidup.

WALHI akan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah dan pusat-pusat keramaian untuk mengajak orang bergabung dengan gerakan lingkungan hidup dan bersedia mendukung sesuai kemampuannya.

WALHI akan memperkuat forum-forum rakyat peduli lingkungan di daerah-daerah dan di kota-kota untuk membangun kekuatan rakyat dan membentuk jaringan dengan gerakan lain agar mereka gerakan lingkungan hidup  semakin disegani.

WALHI akan menjadi poros perlawanan gerakan anti-globalisasi dan gerakan melawan segala bentuk penindasan pada rakyat dan lingkungan hidup dengan mendirikan kelompok perlawanan di mana-mana dan beraliansi dengan gerakan buruh, petani, nelayan, perempuan dan mahasiswa.

WALHI akan melakukan aksi-aksi konfrontatif tanpa kekerasan kepada semua pihak yang jelas-jelas terbukti merusak lingkungan hidup dan melakukan kekerasan kepada rakyat tertindas.

WALHI akan menggalang dana-dana publik dengan memobilisasi seluruh sumberdaya melalui kekuatan tenaga sukarelawan dan kaum progresif lainnya.

 

Sumber: walhi.or.id


Layanan - WALHI - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

Layanan Publik - Instansi